Sosok Berharga

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Nama: Widia Alisa Wiyono

Nim: 12001037

Ibu adalah sosok yang luar biasa bagiku. Menurutku tanpanya aku bukanlah apa-apa. Jasanya begitu banyak, yang aku yakin aku tak sanggup untuk membalas semua kebaikan yang telah diberikannya. Ibu adalah orang yang telah melahirkanku dan mendidikku hingga sampai saat ini. Ibuku bernama Lilis Jumiarti  lahir di Sanggau pada tanggal 28 Maret 1975. Ibuku merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara. 

Ibuku memiliki wajah yang sangat cantik. Menurutku wanita tercantik di hidupku adalah ibuku sendiri. Ibuku memiliki wajah yang bulat tapi sedikit panjang, ibuku bisa dikatakan mirip dengan kakek ku, kulitnya yang putih bersih, matanya yang begitu indah dan badannya yang tidak terlalu tinggi. Badan ibuku yang tidak terlalu tinggi ini tentunya menurun dari nenekku, yaitu ibu dari ibuku. 



Ibuku adalah sosok yang sangat menginspirasiku, mengapa begitu? Karena dari kisahnya yang semasa beliau kecil aku menjadikannya sosok inspiratif di hidupku. Dari kecil ibuku diajarkan untuk selalu mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Contohnya semasa kecil ibuku sudah mulai berjualan kue, ini karena keinginan ibuku sendiri yang tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Ibu biasanya sepulang sekolah ketika beliau SMP keliling dengan menjajakan kuenya bersama teman-temannya. Menurut ibu dengan berjualan kue bersama teman-teman beliau merasa bahagia karena selalu dekat dengan teman-temannya dan upah yang didapat ibu digunakan untuk jajan. 

Dulu ketika ibuku telah lulus dari bangku SMA ibuku tidaklah kuliah. Ini dikarenakan keinginan ibuku yang tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya, karena ibu ingin bekerja saja. Beberapa bulan setelah lulus dari bangku SMA ibuku agak kesusahan dalam mencari kerja. Tapi abang ipar dari ibuku, yaitu suami dari kakak ibuku menyarankan ibu untuk melamar pekerjaan di salah satu Hotel yang ada di Sanggau, kebetulan hotel itu baru dibuka. Ibuku pun lalu mendaftar sebagai resepsionis disana. Alhamdulillah berkat doanya ibuku pun diterima bekerja disana sebagai resepsionis, padahal banyak orang yang mendaftar, tapi rezeki sudah tertakdir kepada ibuku. Beberapa bulan setelah ibu bekerja ada satu kejadian dimana ibuku dipertemukan dengan ayahku. Jadi, siang itu adalah jam waktu makan siang, ibuku pun memutuskan untuk mencari makan diluar bersama teman-temannya. Setelah sampai di tempat makan ibuku bertemu dengan sesosok lelaki tampan yaitu ayahku. Kala itu ayahku sedang bertugas di sanggau, ayahku ini merupakan seorang polisi. Kebetulan Ibu dan Ayah dipertemukan di warung makan, karena mereka berdua sama-sama ingin makan siang di warung itu. Setelah ibuku selesai makan dan ingin memutuskan untuk balik ke tempat kerjanya ibu dipanggil oleh ayah karena ayahku ingin mengenal ibuku. Mereka pun lalu berteman setelah mengenal. 3 bulan setelah itu ayahku pun memutuskan untuk melamar ibuku, lalu memutuskan untuk menikah. 

Setelah menikah ibuku memutuskan untuk tidak lagi bekerja, karena ingin fokus mengurus keluarga saja. Ibuku merupakan seorang ibu rumah tangga. Dari aku kecil ibuku sangatlah berjasa dihidupku ini, bagaimana tidak beliau sosok yang benar-benar dan sangat-sangat sabar mengurusiku. Semasa kecil aku adalah seorang anak yang bisa dibilang sangat cengeng. Aku teringat dimana ketika semasa aku duduk dibangku taman kanak-kanak ibuku selalu menungguku sampai aku selesai belajar. Ada banyak kisah yang ku dapat dari taman kanak-kanak ini, dimana aku yang dulu sangatlah takut terhadap sesuatu apapun itu,  mudah menangis dan apabila aku melihat keluar namun ibuku tidak ada di penglihatanku aku langsung menangis, ini membuat ibuku khawatir dan bilang kepadaku “sudahlah nak, ibu tidak kemana-mana kok, kamu belajar dengan ibu guru ya”. Walau begitu aku tetaplah tidak bisa jauh dari ibuku. Semasa aku TK ibuku amat penuh perjuangan dalam membesarkanku karena ketika dulu aku rentang usia 2 sampai 5 tahun untuk makan benar-benar payah, bahkan aku tahan hingga tak makan sampai seharian. Dengan ini ibuku yang terus berusaha membujuk ku untuk mau makan membuatku tersadar akan pengorbanannya. Hingga ketika aku menginjak Pendidikan Sekolah Dasar barulah perlahan aku ingin makan dengan rutin, karena aku tersadar akan kesabaran dan perjuangan ibuku dalam membujuk ku untuk selalu makan. Aku tidak ingin mengecewakannya dan membuatnya terus bersedih karena aku yang sulit untuk disuruh makan ini. Perhatiannya, kasih sayangnya, dan semangatnya dalam mendidik ku membuatku amat menyayanginnya. 

Ibuku memiliki sikap yang sedikit tegas, tapi dalam arti tegas ini karena kasih sayangnya terhadapku. Sikap tegasnya ini menurun dari kakek ku, karena semasa ibuku kecil hingga remaja beliau selalu di ajarkan untuk selalu taat kepada kedua orang tua dan menuruti perintah orang tua. Sehingga sikap kakek ku ini menurun ke ibu hingga saat ini. ketika aku melakukan kesalahan ibuku akan menegurku secara perlahan dan penuh dengan kepedulian, karena beliau sangat sayang kepadaku. Saat aku kelas 3 SD aku mendapati kenyataan bahwa ibuku akan segera melahirkan bayi kecil, bayi itu adalah adikku. Aku sebenarnya senang apabila adikku ini lahir ke dunia tapi aku takut rasa sayang ibuku berkurang kepadaku. Tapi aku salah besar, buktinya hingga aku besar hingga sampai sekarang ibuku tidak pernah membeda-bedakan kedua anaknya.  Ibuku tetap memberikan perhatian yang sama kepada kami berdua. Beliau begitu menyayangi ku dan adikku sehingga tidak ingin sesuatu terjadi kepada kami berdua. Saking sayangnya ibu kepada kami berdua beliau selalu membelikanku dan adikku sesuatu, apapun itu  dengan adil. 

Ibu selalu memberikan nasihat kepadaku. Ibu selalu mengigatkanku untuk selalu sholat tepat waktu, dan jangan pernah meninggalkan sholat sesibuk apapun kita. 

Ibu adalah sosok pahlawan yang selalu menemaniku ketika aku membutuhkannya. Ibu rela tidak makan apabila anak-anaknya belum makan. Suatu hal yang kecil kelihatannya tapi ini begitu berharga menurutku, ibuku tidak ingin diantara aku dan adikku sampai ada yang belum makan, ibu begitu khawatir sekali. Kebiasaan ibuku yaitu selalu menanyakan menu keinginan yang aku dan adikku ingin dihari yang berbeda, karena ibuku ingin terus membahagiakan kami. Ibu selalu ada untukku dimanapun aku berada. Buktinya dulu ketika kecil aku pernah terjatuh dari jembatan depan rumah nenekku, saat sedang main kejar-kejaran bersama sepupuku. Ketika jatuh aku lalu pingsan, Ibuku begitu khawatir, kaget, sekaligus menangis karena ibu takut terjadi apa-apa kepadaku. 

Usia ibuku yang sekarang ini memang sudah tak muda lagi. Sehingga terkadang apabila ibuku selesai masak beliau merasa kepalanya selalu pusing. Aku lalu beinisiatif untuk memijit kepala ibuku apabila beliau merasa sakit kepalanya. Sungguh, ini hanyalah salah satu hal kecil yang kurasa aku bisa membantu meringankan sakit kepala ibu, namun tidaklah bisa aku membalas semua jasa yang telah diberikannya. 

Semoga dengan aku yang sekarang, yang sedang berjuang untuk menggapai cita-citaku aku bisa menjadi seseorang yang sukses dalam menggapai ilmu, hingga dapat membahagiakan kedua orang tuaku dan menjadi sosok yang berguna bagi mereka serta bermanfaat bagi banyak orang. Ayah, Ibu semoga kalian berdua selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Komentar